Ayahku (Bukan) Pembohong de Tere Liye


Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita ? Menatap wajahnya, lantas comme kita sungguh sayang padanya ? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, comme kita sungguh bangga padanya ?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita ? Menatap wajahnya, lantas comme kita sungguh sayang padanya ? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, comme kita sungguh bangga padanya ?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca roman ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Tere-Liye adalah pengarang beberapa roman dengan rating tinggi di website para pencinta buku www.goodreads.com. Tere-Liye banyak menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan, mencoba memahami banyak hal dengan melihat banyak tempat. Selamat membaca roman kecil ini.

Setamat membaca buku ini, satu hal yang pasti nyata : saya menangguk banyak kearifan di kedalaman cerita.
–UNE. Fuadi, Penulis Trilogi Negeri 5 Menara

Sungguh Tere-Liye berhasil menggugah saya sebagai pembaca sekaligus seorang anak dari seorang ayah yang sangat saya banggakan. À lire absolument.
–Amang Suramang, Penggerak di Goodreads Indonésie

Isinya tak hanya menggugah dan membuat haru, tapi membuat kita merasa perlu meneguhkan kembali keyakinan dan kecintaan pada keluarga. Salut atas roman ini!
–Arwin Rasyid, Président de la Banque Direktur CIMB-Niaga

Roman ini dapat menjadi langkah awal untuk menata ulang konsep budi pekerti di negeri ini.
–Muliaman D. Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonésie



Source link